Merenda Bangsa: Jurnal Transformasi Sosial https://jurnal.peneliti.net/index.php/MERENDA <p>Merenda Bangsa: Jurnal Transformasi Sosial merupakan jurnal peer-review yang diterbitkan oleh PT. Ruang Riset Peneliti,&nbsp; dengan&nbsp;Nomor Sertifikat Pendirian: AHU-A083374.AH.01.30.Tahun 2026 yang bekerja sama dengan Asosiasi Dosen Pemerhati Pendidikan Indonesia (ADPPI),yang dirancang untuk berkontribusi dalam mendiseminasikan Ilmu Pengetahuan, Teknologi, dan Seni di bidang ilmu pengetahuan. bimbingan dan penyuluhan sosial keagamaan. Jurnal ini merupakan media publikasi ilmiah hasil penelitian lapangan, hasil kajian pustaka (kritis/literatur review), serta hasil kegiatan pengabdian kepada masyarakat dan/atau penyuluhan sosial keagamaan yang dilakukan oleh perorangan dan /atau kelompok peneliti, praktisi, dan akademisi (mahasiswa dan/atau dosen). Jurnal ini berfungsi sebagai sumber referensi, diskusi kritis, dan pengkajian permasalahan pengembangan masyarakat sosial dan keagamaan dengan berbagai visi dan strategi dalam kegiatan bimbingan dan konseling sosial/keagamaan di masyarakat.</p> <p>Mengambil filosofi "Merenda," jurnal ini memandang setiap program pengabdian sebagai rajutan kontribusi yang memperkuat struktur sosial bangsa. Jurnal ini mengkaji proses pendampingan masyarakat yang mampu mengubah tantangan menjadi peluang ekonomi dan sosial melalui edukasi yang terstruktur.</p> Peneliti.net bekerja sama dengan Asosiasi dosen pemerhati Pendidikan Indonesia en-US Merenda Bangsa: Jurnal Transformasi Sosial Rumusan Masalah Sebagai Kompas Ilmiah: Menavigasi Identifikasi, Batasan, dan Pertanyaan Penelitian https://jurnal.peneliti.net/index.php/MERENDA/article/view/14216 <p><em>A precise research problem formulation is a crucial foundation in scientific inquiry. However, in practice, many researchers, including those in religious studies, face fundamental difficulties at this stage. This article aims to analyze the nature of problem identification, problem limitation, and research questions; to describe the form and logical sequence of their formulation; and to outline the application of methodologies in the context of religious research. Employing a literature review method, this study analyzes relevant scholarly sources. The findings indicate that: (1) These three elements form an inseparable logical sequence, where problem identification serves to locate a research gap, problem limitation focuses the scope, and research questions articulate the core problem to be answered; (2) The formulation process is systematic and sequential, starting from identification and delimitation to the formulation of specific, operational research questions that guide the entire study; (3) The application of methodology in religious research is dynamic, where qualitative, quantitative, and mixed-method approaches can be applied contextually, with the choice of method heavily dependent on the formulated problem, whether it concerns doctrinal aspects or empirical-social phenomena. It is concluded that a comprehensive understanding of these three aspects will yield focused, directed, and systematic religious research, making a significant contribution to the development of scientific knowledge</em></p> Ulya Qistina Febriyani Febriyani Zainab al-Kubra Rika Sa’diyah ##submission.copyrightStatement## 2026-05-29 2026-05-29 3 1 1 14 Pernikahan Beda Agama sebagai Indikator Krisis Integrasi Sosial Masyarakat Modern dalam Perspektif Fungsionalisme Emile Durkheim https://jurnal.peneliti.net/index.php/MERENDA/article/view/14217 <p><em>This study analyzes interfaith marriage in Indonesia as an indicator of social integration crisis in a modern, pluralistic society, using Émile Durkheim’s structural‑functionalism. Interfaith marriage reflects a tension between collective religious norms and individual freedom, showing how norms and marital institutions are no longer fully effective in regulating behavior despite their formal dominance. Through qualitative documentary analysis, the research demonstrates that interfaith marriage is not merely a deviation from religious or legal rules, but a manifestation of deeper social and normative change. Several factors foster its occurrence: psychological needs for comfort, satisfaction, and autonomy in partner choice; limited religious education, which makes individuals rely more on social experience than doctrinal understanding; open family backgrounds that encourage free partner selection; modern values of romantic love, personal autonomy, and rights; globalization, which expands intercultural intimacy via digital and transnational interaction; and economic and social pressures, where stability and security become decisive considerations. These factors indicate that interfaith marriage symbolizes social transformation, as Indonesian society shifts from religious homogeneity toward pluralism and individual freedom. From a Durkheimian perspective, interfaith marriage can be seen as both a form of social disfunction producing conflict, stigma, and institutional resistanceand a sign of structural change, revealing a crisis of integration between traditional norms and contemporary values. At the same time, it opens space for normative negotiation, adaptation, and the formation of a more inclusive collective consciousness</em></p> Bunga Na’ilah Azizah Achmad Hufad Yani Achdiani ##submission.copyrightStatement## 2026-05-29 2026-05-29 3 1 15 25 Pengaruh Peran Orang Tua Terhadap Kemandirian Belajar Anak Usia 4-6 Tahun di Tk Dharma Wanita Persatuan Kotabumi https://jurnal.peneliti.net/index.php/MERENDA/article/view/14148 <p>Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh peran orang tua terhadap kemandirian belajar anak usia 4–6 tahun di TK Dharma Wanita Persatuan Kotabumi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan jenis penelitian ex post facto. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh orang tua peserta didik di TK Dharma Wanita Persatuan Kotabumi. Sampel penelitian berjumlah 55 responden dengan menggunakan teknik sampling jenuh. Teknik pengumpulan data dilakukan menggunakan angket dengan skala Likert. Instrumen penelitian terdiri dari dua variabel yaitu peran orang tua dan kemandirian belajar anak. Sebelum penelitian utama dilakukan, instrumen diuji validitas dan reliabilitas kepada 30 responden. Teknik analisis data yang digunakan meliputi uji validitas, reliabilitas, normalitas, korelasi, regresi linear sederhana, koefisien determinasi, dan uji t. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat pengaruh positif dan signifikan antara peran orang tua terhadap kemandirian belajar anak. Orang tua yang memberikan bimbingan, motivasi, pengawasan, dan fasilitas belajar mampu mendorong anak menjadi lebih mandiri dalam belajar. Dengan demikian, semakin baik peran orang tua maka semakin tinggi pula tingkat kemandirian belajar anak.&nbsp;</p> Nuriska Aulia Refania Shandy Ahmad Miftahul Khoiri Dessy Kurnia Mulyani ##submission.copyrightStatement## 2026-05-29 2026-05-29 3 1 26 32 Pengaruh Lingkungan Keluarga Terhadap Hasil Belajar Pai Siswa Sekolah Menengah Pertama https://jurnal.peneliti.net/index.php/MERENDA/article/view/14125 <p>Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh lingkungan keluarga</p> <p>terhadap hasil belajar Pendidikan Agama Islam (PAI) siswa sekolah menengah pertama</p> <p>melalui studi review jurnal. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan</p> <p>metode studi kepustakaan (library research). Sumber data diperoleh dari berbagai jurnal</p> <p>ilmiah nasional yang membahas lingkungan keluarga dan hasil belajar siswa. Teknik</p> <p>pengumpulan data dilakukan melalui dokumentasi dengan mengumpulkan, membaca,</p> <p>serta menganalisis jurnal yang relevan dengan tema penelitian. Teknik analisis data</p> <p>menggunakan analisis isi (content analysis). Hasil penelitian menunjukkan bahwa</p> <p>lingkungan keluarga memiliki pengaruh yang signifikan terhadap hasil belajar Pendidikan</p> <p>Agama Islam siswa. Faktor-faktor yang memengaruhi keberhasilan belajar siswa meliputi</p> <p>perhatian orang tua, pola asuh, kondisi ekonomi keluarga, motivasi belajar, fasilitas belajar,</p> <p>serta suasana belajar di rumah. Lingkungan keluarga yang harmonis mampu</p> <p>meningkatkan kedisiplinan, tanggung jawab, semangat, dan motivasi belajar siswa. Selain</p> <p>itu, orang tua yang aktif memberikan pengawasan belajar serta pembiasaan kegiatan</p> <p>keagamaan di rumah membantu siswa memperoleh hasil belajar PAI yang lebih baik.</p> <p>Berdasarkan hasil kajian, diperlukan kerja sama antara keluarga dan sekolah dalam</p> <p>menciptakan lingkungan belajar yang kondusif bagi siswa.</p> Putri Febrina Syifa Mauly Fathaini Jesika Widia Wati Dessy Kurnia Mulyani ##submission.copyrightStatement## 2026-05-29 2026-05-29 3 1 33 39 Krisis Ekologi di Tagulandang “Muliku Wanua” Suatu Upaya Mengatasi Krisis Ekologi di Tagulandang https://jurnal.peneliti.net/index.php/MERENDA/article/view/9426 <p>Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji mengenai krisis ekologi yang terjadi di Tagulandang serta menganalisis hal-hal yang mengakibatkan terjadinya permasalahan ekologis di Tagulandang.Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif, yang menggunakan metode deskriptif-komparatif, yang dilaksakan di Tagulandang, Kab.Siau Tagulandang Biaro pada Tahun 2021. Data dikumpulkan melalui kegiatan observasi dan wawancara serta penelitian kepustakaan. Dari hasil analisis dan interpretasi data, ditemukan bahwa (1).Terjadi krisis ekologis di Tagulandang, (2).Paradigma antroposentris memempengaruhi perlakukan masyarakat Tagulandang terhadap lingkungan, yang mengakibatkan hubungan manusia dan alam menjadi rusak. Manusia dipandang sebagai subjek dan alam menjadi objek yang dieksploitasi, dirusak dan tidak ada tindakan perawatan dan pelestarian alam, (3). Kearifan lokal <em>Muliku Wanua </em>adalah warisan budaya lokal&nbsp; yang dapat membangun kesadaran ekologis masyarakat Tagualndang untuk membangun relasi harmonis dengan alam. Dari hasil temuan tersebut maka masyarakat Tagulandang perlu memperbaiki paradigma berpikir atas alam semesta yang adalah ciptaan Tuhan. Relasi manusia dengan alam adalah relasi yang mengedepankan pemahaman akan keutuhan ciptaan sehingga, relasi alam dan manusia menjadi harmonis. Kearifanlokal <em>muliku wanua </em>adalah nilai budaya masyarakat Tagulandang yang dapat membangun kesadaran ekologis sehingga dapat memperbaiki paradigma dan perlakuan masyarakat Tagulandang terhadap alam agar menjadi lebih baik.</p> Vonny Vallentin Makinggung ##submission.copyrightStatement## 2026-05-29 2026-05-29 3 1 40 53