Penyuluhan Agama Kristen: Pendampingan Pastoral bagi Anak Broken Home
- Delly Maria Pusung Dosen Sekolah Tinggi Agama Kristen Lentera Bangsa Manado
Abstract
Abstrak
Tidak ada seorangpun di dunia ini yang mau memilih terlahir dari keluarga yang berantakan. Broken home yang dihadapi oleh seseorang biasanya mengakibatkan rasa trauma berkepanjangan, hingga pada suatu titik tidak berpengharapan hidup lebih lama dan memilih melampiaskan kepada hal-hal yang buruk serta merusak masa depan tanpa menemukan jalan keluar untuk menolong dirinya sendiri. Pendampingan pastoral bagi bagi kaum broken home menjadi kebutuhan yang sangat penting. Penelitian ini melakukan pendekatan metode kualitatif dengan berusaha mencari informasi di lapangan sesuai situasi yang ada. Tujuan penelitian bahwa pelayanan pendampingan pastoral bukan hanya sekedar hadir mendengar namun juga mampu memberikan solusi atau jalan keluar untuk mereka bisa berpengharapan dan mampu menjalani kahidupan normal tanpa hidup dalam rasa trauma yan berkepanjangan. Hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa setiap kaum broken home lakyak hidup normal dan layak memiliki masa depan yang lebih baik. Sehingga pengalaman hidup sebelumnya bisa menjadi pengalaman yang berharga dan dapat menolong orang lain yang sedang menghadapi situasi yang sama.
Kata Kunci: Penyuluhan Agama Kristen, Pendampinan Pastoral, Broken Home
Abstrac
No one in this world wants to choose to be born into a broken family. A broken home faced by someone usually results in a feeling of prolonged trauma, to the point where they have no hope of living longer and choose to vent about bad things and ruin their future without finding a way out to help themselves. Pastoral assistance for people in broken homes is a very important need. This research uses a qualitative method approach by trying to find information in the field according to the existing situation. The aim of the research is that pastoral care services are not just present to listen but are also able to provide solutions or solutions so that they can have hope and be able to live a normal life without living in a sense of prolonged trauma. The results of this research can be concluded that every broken home person deserves to live a normal life and deserves to have a better future. So that previous life experience can be a valuable experience and can help other people who are facing the same situation. Keywords: Christian Religious Counseling, Pastoral Care, Broken Home
Author Biography
Penyuluhan Agama Kristen:
Pendampingan Pastoral bagi Anak Broken Home
Delly Maria Pusung
agathatheresia0808201@gmail.com
Abstrak
Tidak ada seorangpun di dunia ini yang mau memilih terlahir dari keluarga yang berantakan. Broken home yang dihadapi oleh seseorang biasanya mengakibatkan rasa trauma berkepanjangan, hingga pada suatu titik tidak berpengharapan hidup lebih lama dan memilih melampiaskan kepada hal-hal yang buruk serta merusak masa depan tanpa menemukan jalan keluar untuk menolong dirinya sendiri. Pendampingan pastoral bagi bagi kaum broken home menjadi kebutuhan yang sangat penting. Penelitian ini melakukan pendekatan metode kualitatif dengan berusaha mencari informasi di lapangan sesuai situasi yang ada. Tujuan penelitian bahwa pelayanan pendampingan pastoral bukan hanya sekedar hadir mendengar namun juga mampu memberikan solusi atau jalan keluar untuk mereka bisa berpengharapan dan mampu menjalani kahidupan normal tanpa hidup dalam rasa trauma yan berkepanjangan. Hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa setiap kaum broken home lakyak hidup normal dan layak memiliki masa depan yang lebih baik. Sehingga pengalaman hidup sebelumnya bisa menjadi pengalaman yang berharga dan dapat menolong orang lain yang sedang menghadapi situasi yang sama.
Kata Kunci: Penyuluhan Agama Kristen, Pendampinan Pastoral, Broken Home
Abstrac
No one in this world wants to choose to be born into a broken family. A broken home faced by someone usually results in a feeling of prolonged trauma, to the point where they have no hope of living longer and choose to vent about bad things and ruin their future without finding a way out to help themselves. Pastoral assistance for people in broken homes is a very important need. This research uses a qualitative method approach by trying to find information in the field according to the existing situation. The aim of the research is that pastoral care services are not just present to listen but are also able to provide solutions or solutions so that they can have hope and be able to live a normal life without living in a sense of prolonged trauma. The results of this research can be concluded that every broken home person deserves to live a normal life and deserves to have a better future. So that previous life experience can be a valuable experience and can help other people who are facing the same situation. Keywords: Christian Religious Counseling, Pastoral Care, Broken Home
PENDAHULUAN
Maraknya sikap dan perilaku yang muncul dari seseorang anak yang tidak sesuai dengan harapan yang seharusnya, sering disalah artikan bagi sebagian besar orang maupun kehidupan bermasyarakat. Padahal sikap dan perilaku anak yang bermasalah bisa saja disebabkan dari berbagai faktor, baik internal maupun eksternal atau baik dari dalam lingkungan keluarga maupun dalam ruang lingkup kehidupan beraktifitas di masyarakat. Sikap dan prilaku seorang anak biasanya dapat disebabkan kurangnya kasih sayang orang tua, ketidakharmonisan antar antara orangtua dan anak, kehidupan orangtua yang tidak siap dengan kehidupan keluarga yang sedang dijalani termasuk didalamnya tidak memiliki sikap kedewasan, masalah ekonomi dan kebutuhan hidup yang berlebihan serta keterlibatan orangtua sebelah pihak yang berlebihan yang mengakibatkan berujung pada perceraian yang berdampak pada kondisi psikologi dan sosial anak dalam keluarga. Ada kebutuhan anak yang tidak terpenuhi dalam kondisi seorang anak yang mengalami broken home. Keluarga yang seharunya menjadi rumah bagi tumbuh kembangnya seorang anak dan tempat dan juga dimana anak bisa merasakan kasih sayang dan cinta dari keluarga lewat kehidupan keluarga yang baik.
Masalah ini sering ditemukan hingga menjadi biasa bagi sebagian orang, padahal jika hal ini dibiarkan maka generasi ke generasi akan semakin memiliki citra yang buruk bagi keluarga Kristen. Salah satu tugas penting yang harus dilakukan oleh gereja adalah melakukan pengembalaan pastoral bagi mereka yang mengalami dampak dari broken home. Tentu gereja sebagai lembaga memberikan mandat kepada setiap pemimpinnya, hamba Tuhan untuk berada dalam beban yang sama dalam memberikan perhatian bagi mereka yang berada dalam situasi ini atau dengan mereka yang disebut korban dari broken home.
METODE
Dalam melakukan penelitian yang Peneliti teliti, maka metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Deskriptif. Deskriptif adalah jenis penelitian yang menafsirkan keadaan yang terjadi sekarang ini.
Penelitian deskriptif adalah bagian dari landasan teori yang dimanfaatkan sebagai bagian dari pemandu agar lebih fokus penelitian bisa sesuai dengan fakta yang berada di lapangan. Teknik pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian ini yaitu dengan menggunakan teknik studi literatur pada jurnal-jurnal dan artikel-artikel terkait keluarga broken home.
PEMBAHASAN
Berdasarkan beberapa penelitian sebelumnya, Peneliti melakukan penelitian yang akan memberikan penjelasan yang menekankan kepada bagaimana pelayanan pendampingan pastoral mampu memberi ruang yang selebar lebarnya bagi pelayanan kepada mereka yang benar-benar membutuhkan pertolongan akibat broken home, sebab kondisi yang tidak mudah ini mendapatkan peluang dan solusi bagi mereka. Bahkan dalam penelitian ini Peneliti akan memberikan temuan yang baru dari penelitian yang mungkin pernah diteliti sebelumnya.
Broken Home
Pengertian Broken home memiliki arti adanya kehancuran dalam rumah tangga yang disebabkan oleh adanya pasangan suami istri yang mengalami perbedaan pendapat. Broken Home memiliki banyak arti yang dikarenakan adanya perselisihan antara suami dan istri. Broken Home mengakibatkan kurangnya perhatian dari keluarga, kurangnya kasih sayang dari orang tua sehingga membuat mental seorang anak menjadi stress dan susah diatur. Broken Home sangat berpengaruh besar pada mental seorang anak yang mengakibatkan tidak mempunyai minat untuk belajar dan meraih prestasi. Selain itu, juga dapat merusak jiwa anak tersebut menjadi remaja yang nakal yang tidak disiplin dalam kelas, selalu berbuat kerusuhan, dan berbuat seenaknya. Orang tua tidak bisa lagi menjadi teladan, bisa jadi mereka bercerai, pisah ranjang atau keributan yang terus menerus terjadi dalam keluarga. Broken Home dapat diakibatkan karena adanya konflik, terhambat komunikasi, serta adanya perasaan hilang kepercayaan merupakan tahap awal yang sangat berpengaruh pada struktur pernikahan menjadi tidak kokoh. Broken Home dapat muncul karena akibat ketidakmampuan pasangan suami istri dalam memecahkan masalah yang dihadapi karena kurangnya komunikasi dua arah, saling cemburu, ketidakpuasan pelayanan suami/ istri, kurang adanya saling pengertian dan kepercayaan, kurang mampu menjalin hubungan baik dengan keluarga pasangan, merasa kurang dengan penghasilan yang diperoleh, saling menuntut dan ingin menang sendiri.[1]
Dalam kasus broken home, hal tersebut tidak terjadi begitu saja tanpa sebab yang jelas. Peristiwa broken home akan selalu memiliki penyebab yang melatarbelakanginya (Trianingsih, Inayati & Faishol, 2019). Keluarga yang semestinya dapat berjalan secara harmonis, kemudian dapat menjadi berantarakan dan sampai kepada broken home dapat disebabkan oleh beberapa faktor. Adapun faktor-faktor tersebut adalah sebagai berikut.
- Orang tua tinggal secara terpisah. Kondisi ini dapat terjadi karena hubungan antara suami dan istri yang kurang lagi memiliki rasa kasih sayang, sehingga keduanya tidak mampu mempertahankan hubungannya untuk tetap dapat hidup bersama. Lambat laun, kondisi tersebut akan semakin memburuk dan mengakibatkan interaksi antara keduanya menjadi semakin merenggang, bahkan sampai memutus tali silaturahmi. Dalam situasi tersebut, hubungan antara suami dan istri sudah berada pada fase yang krisis, sehingga keduanya menjadi tidak lagi memikirkan satu sama lain, dan lebih sibuk terhadap urusannya masing masing.
- Emosi orang tua yang tidak stabil. Kondisi ini dapat terjadi ketika orang tua kurang memiliki kedewasaan diri yang matang, sehingga keduanya mementingkan egoismenya masing-masing. Sikap ego tersebut adalah sebuah sikap yang terlalu mementingkan keperluan pribadinya, dan dengan demikian membuat keduanya sulit untuk menemukan jalan tengah ketika dihadapkan pada sebuah perselisihan.
- Kondisi ekonomi. Tidak dapat dinafikan bahwa salah satu faktor yang mendorong adanya broken home adalah disebabkan oleh faktor kondisi ekonomi keluarga. Dalam situasi ini, orang tua biasanya berselisih akibat kondisi sandang dan pangan yang tidak memadai, sehingga keduanya menjadi tidak puas terhadap kondisi yang dialami dengan saling menyalahkan satu sama lain. Oleh karena itu, desakan ekonomi membuat orang tua yang ingin segera menyelesaikan masalahnya, mengakibatkan terjadinya broken home pada keluarga tersebut.
Sejalan dengan hal tersebut, broken home menurut Ardilla & Cholid (2021) dalam tinjauan psikologis, broken home dapat disebabkan oleh perubahan pola komunikasi kedua pasangan yang mengalami perubahan pra-pernikahan dan pasca pernikahan, seperti berkurangnya rasa tanggung jawab dan rasa saling percaya. Selain itu, hal lain yang mengakibatkan broken home salah satunya adalah karena lunturnya rasa saling menyayangi antara suami istri, sehingga menimbulkan ketidaknyamanan dalam keluarga. Terlebih, broken home kerap mengarah pada sebuah kondisi keluarga yang tidak lagi harmonis. Adapun faktor yang menyebabkan broken home dipengaruhi pula oleh faktor pribadi antara lain adalah kurang rasa saling pengertian antara satu sama lain dalam berkeluarga (Hartanti & Salsabila, 2020; Mistiani, 2018).
Selain itu, menurut Massa, Rahman & Napu (2020), terdapat beberapa kriteria dari broken home yaitu pertama, kematian dari salah satu anggota dalam keluarga. Kedua, perceraian. Ketiga, hubungan antara anak dan orang tua yang kurang baik. Keempat, bubungan kedua orang tua tidak baik. Broken home juga dapat dikatakan dengan keluarga yang mengalami krisis, karena dalam keluarga yang broken home kehidupan di dalam keluarga tidak kondusif, kurang memiliki keterarahan, serta lebih banyak menimbulkan konflik dalam keluarga. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa keluarga yang krisis sangat rentan terhadap terpaan masalah, selain itu keluarga yang berada dalam situasi krisis kurang mengalami keajegan (Anisah, Nursanti & Ramdhani, 2021). Dengan demikian, dalam membangun keluarga, sudah seharusnya dibangun sebuah komitmen yang tegas, khususnya dalam pengendalian konflik dalam keluarga, sehingga ketika muncul masalah, keluarga tersebut dapat mencari jalan tengah dalam mencari penyelesaian masalahnya. Hal tersebut merupakan langkah tepat yang dapat diambil, karena mengurangi resiko bagi kedua orang tua, dan terutama dampak yang akan timbul bagi anak (Qolbiya, 2017; Nento, 2019).[2]
Pastoral
Kata pastoral, pastoral berasal dari pastor, dalam bahasa Latin atau dalam bahasa Yunani disebut poimen yang artinya gembala. Pastoral diartikan sebagai pelayanan kepada dan perhatian seorang terhadap yang lain, pelayanan yang mencakup iman manusia seutuhnya´, pelayanan yang memperhatikan situasi yang berbeda-beda, pelayanan yang berlangsung dalam pertemuan dan percakapan, pelayanan yang berdasarkan iman Kristiani, pelayanan yang terikat pada persekutuan Kristiani, pelayanan yang bersamasama dengan pelayanan organisasi-organisasi lain terarah pada masyarakat. Bahkan seorang yang bersifat pastoral merasa bahwa karya semacam itu adalah “yang seharusnya” di lakukannya katakanlah bahwa itu adalah “tanggung jawab dan kewajiban” baginya.[3]
Pelayanan Pastoral
Dalam buku “Pastoral Care in Historical Perspective” bahwa sebuah pelayanan Kristen yang disebut pemeliharaan jiwa (Cure of Soul) juga harus sebisa mungkin melakukan pendampingan pastoral. Pendampingan pastoral yang selama ini sudah banyak dilakukan bagi setiap kehidupan manusia haruslah bertujuan untuk menawarkan pertolongan, meringankan, dan sampai menolong setiap mereka yang merasa bingung yang melandanya. Pendampingan pastoral atau pemeliharaan jiwa, terdiri dari tindakan-tindakan pertolongan yang dilakukan atas nama gereja dan yang mengarah kepada sebuah pelayanan yang membawa seeorang yang berada pada situasi yang berat secara psikologis dan bagi mereka mampu menyelesaikan untuk bisa mengalami penyembuhan, pendampingan, bimbingan dan perdamaian orang-orang yang bermasalah, khususnya berhubungan dengan masalah-masalah yang paling pokok dan mendasar dalam kehidupan manusia.[4]
B.S Sijabat juga mengatakan Alkitab menolong seseorang untuk masuk pada jawaban dari pertanyaan seberapa seberapa berharga hidup seseorang. Tuhan menciptakan manusia sebagai makhluk sosial untuk tetap memerlukan bantuan orang-orang yang tepat.
Beberapa hal penting yang perlu disadari dalam diri seseorang yaitu:
Berharga di Mata Tuhan
Kesempatan menyadari bahwa seseorang berharga di mata Tuhan menjadi keyakinan iman seseorang bahwa hidupnya sangat berharga. Baik secara implisit maupun eksplisit begitu banyak nats Alkitab yang mengajarkan betapa berharganya diri manusia dihadapan Tuhan (bd. Yesaya 43:3-5; 49:5). Atas dasar ini pesan itu harus secara terus menerus disampaikan kepada diri sendiri antara lain “saya berharga bukan atas dasar pujian, sanjungan ataupun pengakuan orang lain; bukan oleh posisi, perbuatan, popularitas orangtua ataupun keluarga bukan pula sebuah kepintaran. Semua semata anugerah Sang Maha Kudus yang menganugerahkan keselamatan atas dasar iman (Ef. 2:8,9).[5]
Bertumbuh
Kesadaran bahwa hidup berproses adalah kesadaran yang normal. Hal ini menjadi sangat penting dalam hidup seseorang bahwa kedewasaan dibutuhkan proses untuk bertumbuh. Termasuk bertumbuh dalam iman. Setiap pengalaman hidup seharusnaya membawa seseorang mengalami pertumbuhan bukan saja menjadi dewasa secara usia namun juga dewasa berpikir dan bersikap lebih dari pada itu dewasa imannya di dalam Tuhan. Sebab biasanya seseorang yang dewasa kepribadiannya lebih mampu mempercayai Tuhan dalam keadaan apapun (1Tes.5:18; Kol.3:17).
Penerimaan Diri
Hurlock (2008) mengemukakan sembilan faktor yang memengaruhi penerimaan diri individu, faktor-faktor tersebut terdiri dari enam faktor internal dan tiga faktor eksternal. Dari ketiga faktor eksternal yang disebutkan oleh Hurlock, satu faktor yang sama ditemukan dalam yaitu faktor praktik pengasuhan dalam keluarga. Praktik pengasuhan dalam keluarga anak tercermin dari pola hubungan anak dengan orangtua. Kehadiran orangtua yang tidak konsisten dan komunikasi yang tidak terbuka antara anak dengan orangtua membentuk gaya kelekatan tidak aman (insecure attachment) pada anak, akibatnya anak merasakan kecemasan dalam menjalin hubungan interpersonal di masa remaja akhir dan menunjukkan perilaku menghindar. Penemuan tersebut sejalan dengan pendapat Simpson (1990, dalam Helmi, 2004) yang menyebutkan bahwa individu dengan gaya kelekatan tidak aman memandang orang lain mempunyai komitmen rendah dalam hubungan interpersonal, selain itu individu juga mudah curiga dan sukar bersikap terbuka. Akibat dari gaya kelekatan tidak aman antara responden dengan orangtua ini adalah ketidakmampuan anak untuk bertahan secara konsisten pada tahap acceptance. Wujud penerimaan diri berbeda-beda pada setiap fase perkembangan, yang mana fase perkembangan tersebut dalam penelitian ini dibedakan menjadi tiga kategori yaitu fase anak-anak dengan wujud penerimaan diri dominan emosi, remaja awal dengan wujud penerimaan diri dominan perilaku, dan remaja akhir dengan wujud peneriman diri dominan pikiran.[6]
HASIL
Penelitian ini menghasilkan sebuah penjelasan yang mengungkapan bahwa seseorang yang mengalami situasi broken home bukanlah situasi yang mudah dan gampang menjalani aktifitas sosialnya. Penelitian ini memberi pemahaman bahwa pelayanan pastoral terhadap kaum korban broken home benar-benar dibutuhkan bukan sekedar program gereja yang bertujuan penginjilan jiwa-jiwa melainkan juga bagaimana kepedulian gereja untuk memberikan kaum korban broken kesempatan bisa menerima dirinya sendiri, merasa ditolong, merasa diterima dilingkungannya dan berlajar bertumbuh sebagai bagian sikap imannya kepada Tuhan. Bukan hanya itu juga dari penelitian ini dapat memberikan pengalaman baru bagi mereka yang mengalami broken home untuk bisa dapat juga menolong orang lain yang berada dalam situasi yang sama ketika mereka benar-benar sembuh karena bisa menerima masa lalu, mampu menjalani masa sekarang sambil siap menghadapi masa depan. Dari penelitian ini juga mampu membuka cakrawala berpikir bagi setiap mereka yang mengaku dan terpanggil menjadi pelayan Tuhan maupun hamba Tuhan untuk benar-benar melayani korban broken home sampai mereka menemukan jati diri sebenarnya dan menjadi sembuh. Sampai pada titik sembuh bukan hanya sedekar dapat merasakan pelayanan.
KESIMPULAN
Pelayanan pastoral bagi kaum korban broken home merupakan tugas panggilan pelayanan yang penting. Adapun tujuan dari pelayanan pastoral ini dilakukan bertujuan untuk membawa mereka bukan hanya menemukan jati diri mereka sebagai orang yang berharga melainkan membawa mereka kepada Kristus (Mazmur 27:10). Karena untuk berada disituasi yang tidak mudah dari segi psikologi maupun situasi sosial tidak begitu diterimanya mereka dalam lingkungan Masyarakat sehingga mengakibatkan korban melakukan hal-hal yang menyimpang dari etika maupun firman Tuhan. Pelayanan pastoral dibutuhkan sebagai pendamping untuk menolong mereka bisa menerima kesempatan bisa menerima dirinya sendiri, merasa ditolong, merasa diterima dilingkungannya dan berlajar bertumbuh sebagai bagian sikap imannya kepada Tuhan.
DAFTAR PUSTAKA
[1] 6J.L.Ch. Abineno, PedomanPraktisUntukPelayanan Pastoral (Jakarta: BPK Gunung Mulia,2010).
[2] Van, Beek Aart, Konseling Pastoral Sebuah Buku Pegangan Bagi Para Penolong Di Indonesia, (Satya Wacana: Semarang, 1987).
[3] William A. Clebsch and Charles R. Jaekle, Pastoral Care in Historical Perspective, (Englewood Cliffs, NJ: Prentice-Hall, 1964).
[4] B.S Sidjabat, Membangun Pribadi Unggul (Yogyakarta:ANDI, 2011).
[5] Rahman Wahid dkk, Universitas Pendidikan Indonesia, Jurnal Cakrawala PENJAS (Vol. 8 No. 4, Oktober 2022).
[6] Ida Ayu dan Yohanes Herdiyanto, Universitas Udayana Jurnal Psikologi Udayana Edisi Khusus Psikologi Positif.
[1] Shinta Febriana Rahayu, Universitas Jenderal Achmad Yani Yogyakarta, Empati – Jurnal Bimbingan dan Konseling [Volume 9 Nomor 1, April],78-90.
[2] Rahman Wahid dkk, Universitas Pendidikan Indonesia, Jurnal Cakrawala PENJAS (Vol. 8 No. 4, Oktober 2022), 1629-1630.
[3] Van, Beek Aart, Konseling Pastoral Sebuah Buku Pegangan Bagi Para Penolong Di Indonesia, (Satya Wacana: Semarang, 1987), 6.
[4] William A. Clebsch and Charles R. Jaekle, Pastoral Care in Historical Perspective, (Englewood Cliffs, NJ: Prentice-Hall, 1964), 1-10.
[5] B.S Sidjabat, Membangun Pribadi Unggul (Yogyakarta:ANDI, 2011),102.
[6] Ida Ayu dan Yohanes Herdiyanto, Universitas Udayana Jurnal Psikologi Udayana Edisi Khusus Psikologi Positif, 211-220.
