ONTOLOGI DAN REPRESENTASI BUDAYA DALAM SIMBOLISME TENUNAN ETNIS “KUI” DI KABUPATEN ALOR
Abstract
Penelitian ini bertujuan mencari jenis serta makna ontologi filosofis dari motif tenunan Etnis Kui di Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur, sebagai bentuk kontribusi terhadap budaya dan gambaran ontologis masyarakat setempat. Secara historis, Suku Kui yang berada di Kerajaan Kui ( kelurahan Moru, Kecamatan Alor Barat Daya) memiliki lokasi yang strategis secara geopolitik dan maritim, sehingga membentuk ciri khas kebudayaan visual mereka yang sangat berbeda. Namun, karena dampak dari lajunya modernisasi, komersialisasi, dan perbedaan cara pandang antar generasi, pemahaman terhadap tenun lokal bisa terancam. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif-etnografis. Kehadiran peneliti langsung di lapangan sebagai alat memperkuat pemahaman makna yang dalam mengenai budaya masyarakat suku Kui secara utuh. Data penelitian terbagi menjadi dua jenis, yaitu data primer dan data sekunder. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara mengamati langsung dan melakukan wawancara dengan para tokoh adat, para ahli tenun (Mama-Mama), serta mengoleksi dokumentasi visual dari hasil tenunan dan motifnya. Data tersebut dianalisis secara interaktif dengan berpedoman pada pandangan analitis: Geertz, gambar atau pola yang terdapat pada kain tenun tidak dapat diartikan secara terbatas atau dalam lingkup yang sempit. Oleh karena itu penelitian ini cukup mendalam dalam memahami makna filsafat tersebut. Penelitian harus menggunakan penjelasan yang jelas dan mendalam untuk menjelaskan latar belakang makna sejarah, kehidupan sosial yang mendasarinya, serta pesan spiritual atau sosial yang terkandung di dalamnya, lalu mengambil kesimpulan yang sesuai. Penelitian menunjukkan bahwa kain tenun Suku Kui tidak hanya menjadi benda yang dipakai untuk melindungi tubuh, tetapi juga merupakan cerminan dari kosmologi yang menghubungkan hubungan spiritual antara etnis Kui, alam, dan kehidupan sosial di masa lalu. Makna simbolis yang terbentuk pada pola motif tenun, gambar berbentuk pohon bambu “Mar” dan juga menyerupai manusia, berbentuk hewan, serta pemilihan kehidupan alam mencerminkan jejak sejarah Kerajaan Kui, tingkat kedudukan sosial, aturan moral, serta cara hidup (worldview) masyarakat setempat. Dokumentasi akademis ini sangat penting untuk menjaga ingatan bersama dan kearifan lokal suku Kui agar tidak punah.

