Krisis Ekologis di Tagulandang “Muliku Wanua” Suatu Upaya Mengatasi Krisis Ekologis di Tagulandang
Abstract
The purpose of the study this is to examine the crisis of ecology that occurred in Tagulandang and analyze the things that lead to the problem of ecology in Tagulandang. This is a qualitative research with descriptive-comparative method, held in Tagulandang, Siau Tagulandang Biaro Regency, in the year of 2021. Data were collected through activities of observations and interviews as well as the literature research. From the results of data analysis and interpretation, it was found that (1). There was an ecological crisis in Tagulandang; (2). The paradigm of anthropocentrism affect the treatment of the Tagulandang society towards the environment, which resulted the relationship of man and nature become damaged. Humans are seen as subjects and nature becomes objects that are exploited , damaged and there is no action for nature care and preservation ; (3). Local Wisdom, Muliku Wanua is the heritage of culture that can raise communities awareness of ecologica lin Tagulandang to develop harmony with nature. From the results of the findings, then the people of Tagulandang need to fix the thinking paradigm over the nature of the universe which is the creation of God . The relation between man and nature is a relation which emphasizes the understanding of the integrity of creation so the relation of nature and humans becomes harmonious. Local wisdom ,muliku wanua is the value of the cultural of the Tagulandang community that can build ecological awareness so it can improve the paradigm and treatment of the people Tagulandang towards nature in order to be better.
References
Aman, Peter. (2013) Iman Yang Merangkul Bumi, Jakarta : Obor.
Aritonang, Jan S. (2018). Teologi-Teologi Kontemporer, Jakarta : BPK Gunung Mulia.
Barth, Christoph dan Marie Claire Barth Fromme. (2017), Teologi Perjanjian Lama 1, Jakarta : BPK Gunung Mulia.
Brilman, D. (2000). Kabar Baik di Bibir Pasifik, Jakarta : Pustaka Sinar Harapan.
Borrong, Robert . (2004). Etika Bumi Baru, Jakarta, BPK Gunung Mulia
Balai Pustaka. (1983). Kamus Besar Bahasa Indonesia. Departemen Pendidikan Nasional.
Bingku,Ch.O (1998). Buku Sejarah Tagulandang, Kandep Dikbud Kec. Tagulandang.
Drummond, Celia Deane. (2016). Teologi dan Ekologi, Jakarta : BPK Gunung Mulia.
Erari, Karel Phil. (2017). Spirit Ekologi Integral, Jakarta : BPK Gunung Mulia.
Erari, Karel Phil. (1999). Tanah Kita Hidup Kita, Kajian Eco-teologis Perspektif Malanesia, Jakarta : PT Pustaka Sinar harapan.
Fathoni, Abdurrahmat. (2006). Metodologi Penelitian dan Penyusunan Karya Ilmiah, Jakarta : PT Rineka Cipta.
Hadiwardoyo, Al. Purwa. (2015). Teologi Ramah Lingkungan, Yogyakarta : PT Kanisius.
Harun, Marthin. (2001). Alkitab dan Ekologi, Jurnal Ilmiah Popouler. Jakarta: Lembaga Indonesia.
Henk ten Napel. (2000) Kamus Teologi: Inggris-Indonesia. cetakan keenam. Jakarta: BPK Gunung Mulia.
Holilah, Mina. (2014). Implementasi Nilai-nilai kearifan Ekologis dalam budaya lokal masyarakat adat Cigugur Kuningan sebagai sumber belajar IPS
Karman, Yongki. (2015). Bunga Rampai Teologi PL, Jakarta: BPK Gunung Mulia.
Keraf, Sonny. (2014). Filsafat Lingkungan Hidup, Yogyakarta: Kanisius.
Kambey, Meylinda., Eksistensi Budaya Maritim Kelompok Nelayan, Malalayang Dua, Kota Manado, Provinsi Sulawesi Utara, http://jurnal.borneo.ac.id/index.php/borneo_humaniora/article/view/1908
Lasor, W.S. (2005). Pengantar Perjanjian Lama 1, Jakarta : BPK Gunung Mulia.
Leahy, Louis P., editor : J. Sudarminta & S. P. Lili Tjahjadi. (2008). Dunia, Manusia dan Tuhan, Yogyakarta: Kanisius.
Moleong, Lexi J. (2002). Metodologi Penelitian Kualitatif, Bandung : PT Remaja Rosda Karya.
Nazir, Mohamad. (1988). Metode Penelitian. cetakan ke-. (Jakarta: Ghalia Indonesia.
Neolaka, Amos. (2019). Kesadaran Lingkungan, Jakarta : Rineka Cipta.
Ngelow, Zakaria J. (2019). Teologi Bencana, Jakarta : BPK Gunung Mulia.
Ngelow, Zakaria J. (2015). Teologi Tanah, Makasar : Oase Intim.
Pasang, Haskarlianus. (2011). Mengasihi Lingkungan: Bagaimana Orang Kristen, Keluarga dan Gereja mempraktikan Kebenaran Firman Tuhan untuk menjadi Jawaban atas Krisis Ekologi dan Perubahan Iklim di Bumi Indonesia. Jakarta: Literatur Perkantas.
Poluaan,A.R. (2020). Membangun Kesadaran Ekologis Melalui Pendidikan, Forum Pemuda Aswaja.
Resort Tagulandang. (2016). Buku Informasi dan Kenangan Sidang Lengkap Sinode GMIST Ke-XXIV
Sairin, Weinata (Peny).. (2012). Visi Gereja Memasuki Milenium Baru, Jakarta: BPK Gunung Mulia.
Simpson, Kathleen,Selidik National Geographic : Cuaca Ekstrem, (Jakarta : KPG, 2012).
Sudhiarsa, R. (2017). Diktat Filsafat Budaya. STFT Widya Sasana.
Sugiyono. (2010). Memahami Penelitian Kualitatif, Bandung : Alfabeta.
Sihotang, Juli, Antonius. (2021). Kesadaran dan kepedulian Ekologis Budaya, http://ejournal.unsrat.ac.id/index.php/akulturasi
Siwu, Richard, A.D. (2007). Memelihara ciptaan Tuhan ; Tugas panggilan gereja, Kini dan Mendatang, Lokakarya Litbang PGI.
Timpua, Jhein, Lisye. (2007). Kontribusi Nilai Budaya Muliku Wanua terhadap pluralitas agama di Tagulandang.
Tehubijuluw, Florentina. (2014). Metodologi Penelitian, Cara mudah membuat Makalah, Skripsi, Tesis dan Disertasi, Tangerang : Matana Bina Utama.
Telnoni, J.A. (2013). Langit & Bumi Baru, Manusia dan Umat Baru, Kupang , INARA.
Timo, Ebenhaizer I.Nuban. (2017). Meng-hari-ini-kan injil di Bumi Pancasila, Jakarta : BPK Gunung Mulia.
Tjaya, Thomas Hidya. (2002). Kosmos Tanda Keagungan Allah, Yogyakarta ; Kanisius.
Tristanso, Lukas Awi. (2016). Hidup Dalam Realitas Alam, Yogyakarta


