Antara Luka Lama dan Harapan Baru: Persepsi Masyarakat Ambon terhadap Konflik dan Harmoni

  • Jean Alicia Salhuteru Institut Agama Kristen Negeri Ambon
  • Yance Zadrak Rumahuru Institut Agama Kristen Negeri Ambon
  • Samel Sopakua Institut Agama Kristen Negeri Ambon
Keywords: Konfilik ambon, trauma kolektif, rekonsiliasi, pela gandong, harmoni sosial

Abstract

Ambon dikenal sebagai kota dengan kekayaan budaya dan keberagaman etnis serta agama yang hidup berdampingan secara historis. Namun, harmoni tersebut pernah runtuh akibat konflik sosial yang terjadi pada tahun 1999–2002, meninggalkan luka mendalam secara fisik, sosial, dan psikologis. Sejak itu, berbagai upaya pemulihan telah dilakukan melalui rekonsiliasi berbasis budaya lokal seperti Pela Gandong, serta kerja sama lintas agama. Meski demikian, ketegangan sosial masih sesekali muncul, menunjukkan bahwa perdamaian belum sepenuhnya kokoh.

Penelitian ini bertujuan untuk menggali bagaimana masyarakat Ambon memaknai pengalaman konflik masa lalu dan membangun harapan terhadap masa depan yang harmonis. Dengan pendekatan kualitatif, data diperoleh melalui wawancara mendalam terhadap masyarakat dari berbagai latar belakang. Hasil penelitian menunjukkan adanya dinamika persepsi yang mencerminkan perasaan trauma, harapan, dan komitmen terhadap perdamaian. Faktor-faktor seperti pengalaman konflik, pendidikan, kondisi sosial-ekonomi, dan peran agama memengaruhi cara masyarakat menilai harmoni saat ini. Temuan ini menunjukkan bahwa pembangunan perdamaian pascakonflik perlu mempertimbangkan persepsi dan kebutuhan riil masyarakat di tingkat akar rumput.

References

Abdullah, I. (2006). Konflik dan integrasi di Sulawesi Selatan. Lembaga Penelitian Universitas Gadjah Mada.

Adam, J. (2010). Cakalele dan Gong Perdamaian Dunia: Pergulatan Budaya Maluku Pasca Konflik. Penerbit Buku Kompas.

Azca, M. N. (2011). After Jihad: A biographical approach to passion and jihad in Indonesia. University of Amsterdam.

Bertrand, J. (2004). Nationalism and ethnic conflict in Indonesia. Cambridge University Press.

Harris, I. (2002). Peace education for a new century. Social Alternatives, 21(1), 3–6.

Haris, S. (Ed.). (2010). Desentralisasi dan otonomi daerah: Desentralisasi, demokratisasi, dan akuntabilitas pemerintahan daerah. LIPI Press.

Hasan, N. (2006). Laskar Jihad: Islam, militancy, and the quest for identity in post-New Order Indonesia. Cornell Southeast Asia Program.

Komnas Perempuan. (2004). Potret Kekerasan terhadap Perempuan dalam Situasi Konflik di Indonesia. Komnas Perempuan.

Latumahina, F. E. (2013). Pendidikan perdamaian di Ambon: Studi atas praktik pendidikan lintas iman. Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, 17(1), 60–75.

Lapian, A. (2015). Revitalisasi Pela Gandong dalam membangun perdamaian di Maluku. Jurnal Antropologi Indonesia, 36(1), 45–57.

Leirvik, O. (2004). Interfaith dialogue: Ethical perspectives and interreligious hospitality. Rodopi.

Mujiburrahman. (2008). Feeling threatened: Muslim-Christian relations in Indonesia's New Order. Amsterdam University Press.

Rahail, S. (1993). Masohi: Sistem sosial budaya orang Maluku. Yayasan Obor Indonesia.

Rumah, S., & Noya, E. (2016). Transformasi budaya Pela Gandong dalam membangun kohesi sosial masyarakat Maluku. Jurnal Masyarakat dan Budaya, 18(3), 367–382.

Suleeman, Y. (2018). Reaktualisasi nilai-nilai masohi dalam membangun perdamaian pasca konflik. Jurnal Kajian Budaya, 12(2), 115–128.

Sumampouw, J. (2007). Mengenal konflik Ambon: Menyemai damai di bumi Maluku. Interseksi Foundation.

Published
2025-05-23
How to Cite
Salhuteru, J., Rumahuru, Y., & Sopakua, S. (2025). Antara Luka Lama dan Harapan Baru: Persepsi Masyarakat Ambon terhadap Konflik dan Harmoni. Jurnal Ilmiah Wahana Pendidikan, 11(5.C), 298-305. Retrieved from https://jurnal.peneliti.net/index.php/JIWP/article/view/12392