Karakter Allah Dalam Kitab Hosea: Sebuah Perspektif Pertentangan Besar
Abstract
Kitab Hosea menyajikan otret intim sekaligus paling kompleks tentang karakter Allah. Lewat metafora pernikahan antara Hosea dan Gomer, kitab ini tidak hanya menyuarakan kritik sosial-religius terhadap Israel Utara abad ke-8 SM, tetapi juga menyingkapkan ketegangan teologis yang dalam: ketegangan antara murka ilahi dan belas kasihan, antara keadilan dan kesetiaan perjanjian. Penelitian ini berargumen bahwa kitab Hosea secara keseluruhan berfungsi sebagai pembelaan (vindicatio) terhadap karakter Allah di tengah pemberontakan umat perjanjian-Nya, dan pembacaan tersebut menjadi semakin koheren ketika ditafsirkan melalui kerangka Great Controversy. Dengan menggunakan metode biblika-teologis dan analisis literer, penelitian ini menelusuri empat dimensi karakter Allah dalam Hosea—sebagai Suami Perjanjian (pasal 1–3), sebagai Hakim yang Adil (pasal 4–10), sebagai Bapa yang Mengasihi (pasal 11), dan sebagai Penebus serta Pemulih (pasal 14)—lalu menunjukkan bahwa keempat dimensi tersebut bersama-sama membela karakter Allah dari tuduhan sewenang-wenang, kejam, atau tidak setia. Lebih jauh, penelitian ini memperlihatkan bahwa konflik antara Yahweh dan Israel dalam Hosea mencerminkan struktur kosmik dari konflik agung antara kesetiaan dan pemberontakan, sehingga kitab Hosea dapat dipahami sebagai miniatur naratif dari Great Controversy. Kontribusi orisinal penelitian ini terletak pada pembacaan sistematis kitab Hosea sebagai theodicy kenabian yang memperkaya teologi Advent tentang pembelaan karakter Allah.


